Menelusuri Jejak Peradaban: Rekomendasi Candi di Solo dan Sekitarnya

Solo tidak hanya dikenal sebagai surga kuliner dan pusat belanja batik, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah yang terpendam, bahkan ada yang masih menjadi misteri. Jika Anda ingin liburan yang lebih tenang sambil belajar tentang masa lalu, mengunjungi candi-candi di sekitar Solo bisa menjadi pilihan tepat. Meskipun tidak sebanyak di Yogyakarta atau Magelang, Solo dan wilayah sekitarnya memiliki pesona candi yang tak kalah menarik—baik dari sisi arsitektur, sejarah, maupun suasananya yang damai dan menenangkan .

Menariknya, beberapa candi di kawasan Solo bahkan menyuguhkan bentuk yang unik dan berbeda dari candi pada umumnya. Berikut adalah rekomendasi objek wisata candi di Solo dan sekitarnya yang wajib Anda kunjungi.

1. Candi Cetho: Keindahan di Atas Awan

Berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian sekitar 1.496 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho menawarkan pengalaman wisata yang tak terlupakan . Secara administratif, candi ini terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, atau sekitar 50 km dari pusat Kota Solo .

Candi ini memiliki bentuk yang unik, yaitu bertingkat-tingkat seperti punden berundak, mirip dengan Candi Sukuh. Karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, Candi Cetho hampir selalu diselimuti kabut, sehingga banyak wisatawan yang menyebutnya sebagai “Candi di Atas Awan” . Dari area candi, Anda juga bisa menikmati hamparan sawah dan perkebunan teh yang hijau dan menyegarkan mata .

Candi Cetho diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahir akhir, sekitar tahun 1451-1470, dan masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh umat Hindu dan penganut kejawen hingga saat ini . Oleh karena itu, pengunjung diwajibkan mengenakan kain poleng (kain belang hitam-putih) sebagai tanda penghormatan sebelum memasuki kompleks candi .

2. Candi Sukuh: Piramida Jawa yang Kontroversial

Masih di lereng Gunung Lawu, ada Candi Sukuh yang tak kalah unik dari Candi Cetho. Berlokasi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, candi ini sering disebut-sebut sebagai “piramida Jawa” karena bentuknya yang menyerupai piramida bertingkat, sangat berbeda dari candi Hindu-Buddha pada umumnya .

Keunikan Candi Sukuh tidak hanya pada bentuknya, tetapi juga pada relief-reliefnya yang cukup eksplisit dan menggambarkan sisi spiritualitas serta kesuburan di masa lampau . Hal ini sering menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti dan wisatawan yang penasaran dengan makna filosofis di baliknya.

Suasana di Candi Sukuh sangat tenang dan asri. Karena letaknya yang tidak jauh dari Candi Cetho, Anda bisa mengunjungi kedua candi ini sekaligus dalam satu perjalanan untuk menikmati eksotisme peradaban kuno di lereng Lawu .

3. Candi Plaosan: Kisah Cinta yang Abadi

Meskipun secara administratif masuk ke wilayah Kabupaten Klaten, Candi Plaosan sangat mudah dijangkau dari Solo dan layak masuk dalam daftar kunjungan Anda . Candi yang terletak di Dukuh Plaosan, Kecamatan Prambanan ini terkenal dengan arsitektur perpaduan Hindu dan Buddha yang sangat indah.

Candi Plaosan konon dibangun sebagai wujud cinta Raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya (Hindu) kepada permaisurinya, Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra (Buddha) . Kompleks candi ini terdiri dari dua candi utama, yaitu Candi Plaosan Lor (Utara) dan Candi Plaosan Kidul (Selatan), yang dikelilingi oleh puluhan candi kecil atau stupa perwara. Suasana di sini sangat romantis dan instagramable, terutama jika Anda datang saat matahari terbit atau terbenam .

4. Candi Mangkubumen: Bukan Candi pada Umumnya

Sekarang, mari kita lihat candi yang benar-benar berbeda. Di jantung Kota Solo, tepatnya di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Mangkubumen, terdapat sebuah bangunan unik yang disebut Candi Mangkubumen . Keunikannya terletak pada arsitekturnya yang bergaya Eropa, bukan khas Hindu-Buddha seperti candi pada umumnya.

Bangunan ini lebih mirip sebuah tugu setinggi 3 meter dengan empat tiang penyangga dan atap mengerucut khas arsitektur Belanda . Lalu, mengapa disebut candi? Ternyata, Candi Mangkubumen dibangun sekitar tahun 1840 sebagai penanda tempat ditanamnya ari-ari (tali pusar) dari Patih KRA Sasranagara, seorang patih handal di Keraton Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono IX . Jadi, bangunan ini adalah monumen bersejarah yang unik, memadukan tradisi Jawa dengan gaya arsitektur kolonial.

5. Misteri Candi Nusukan di Dasar Sungai

Jika Anda tertarik pada misteri dan sejarah yang belum terungkap, cerita tentang Candi Nusukan (atau Candi Noesoekan) wajib Anda simak. Candi ini ditemukan secara tidak sengaja sekitar tahun 1917-1922 ketika KGPAA Mangkunegara VII sedang meluruskan aliran Kali Pepe (yang kemudian menjadi Kali Anyar) di Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, untuk mengatasi banjir .

Saat pengerukan sungai, ditemukan reruntuhan berupa pondasi candi dari batu bata merah, serta dua arca penting, yaitu arca Dewi Durga dan arca Siwa . Penelitian pun dilakukan oleh Dinas Purbakala Belanda, namun terhenti pada tahun 1922 . Hingga kini, tidak ditemukan prasasti yang menyebutkan angka tahun pasti pembangunan candi ini, sehingga tahun pendiriannya masih menjadi misteri. Berdasarkan gaya arcanya, para ahli menduga candi ini berasal dari masa Kerajaan Majapahit .

Arca-arca yang ditemukan kini disimpan di Pura Mangkunegaran dan Taman Balekambang, sementara reruntuhan candinya sendiri masih berada di dasar Kali Anyar, menunggu untuk diteliti lebih lanjut . Keberadaan Candi Nusukan ini menjadi bukti bahwa peradaban di Solo sudah ada jauh sebelum era Kerajaan Mataram Islam .

Dari candi di atas awan hingga misteri yang terpendam di dasar sungai, Solo dan sekitarnya menawarkan petualangan sejarah yang tak kalah seru. Jadi, lain kali Anda ke Solo, sempatkan waktu untuk menelusuri jejak peradaban kuno di candi-candi ini.

Testi Customer

Lebih dari 1000+ pelanggan puas belanja di Purity Motor Bali, ayo beli motor di Dealer kami segera!

Mrs Anastasia From Spain
From Jakarta
@Villa Kubu Kauh Jembrana